Sabang merupakan satu-satunya kawasan perdagangan bebas dan pelabuhan bebas di Indonesia yang telah mempunyai dasar hukum (de jure) bagi pengembangan dan pembangunannya serta untuk memberikan kepastian hukum bagi para investor. UU No. 37/2000 tentang Kawasan Perdagangan Bebas dan Pelabuhan Bebas Sabang (selanjutnya disebut Kawasan Sabang) telah menetapkan kawasan yang meliputi Kota Sabang (P. Weh, P. Klah, P. Rubiah, P. Seulako, P. Rondo), P. Breuh, P. Nasi dan P. Teunom serta pulau-pulau kecil di sekitarnya sebagai kawasan yang bebas dari pengenaan bea masuk, pajak pertambahan nilai, pajak penjualan atas barang mewah dan cukai. Implementasi UU No. 37/2000 ini ternyata belum menunjukkan kinerja dan memberikan hasil nyata bagi pembangunan Kawasan Sabang baik dari segi pembenahan aspek kelembagaan, pembiayaan dan operasional. Pada lain pihak, jangka waktu pengelolaan yang ditetapkan selama 70 tahun memberikan indikasi adanya urgensi untuk melakukan pembenahan secara lebih konkrit dan terintegrasi.